Gerobak dan Trotoar


Hari itu Selasa pagi 12 Januari 2010 dengan berkendara menuju ke tempat kerja sampai di perempatan Senen ke arah Tugu Tani yang karena tidak bisa lurus maka harus berputar mengambil rute melalui jalan Kwini 1, namun baru sampai di gedung Kebangkitan Nasional (STOVIA) kendaraan sudah harus berhenti karena antrian kendaraan yang cukup panjang akibat lampu merah lalu lintas yang terlalu lama. Rasanya tidak mengada-ada bila dikatakan demikian, mengingat seorang peminta-minta yang bergerak dari tempat lampu lalu lintas dipasang telah mencapai tempat di mana kendaraan yang saya tumpangi berhenti.

Sementara masih menunggu antrian, di atas trotoar terlihat seorang bapak beserta gerobaknya dengan sabar pun berhenti menanti jajaran kendaraan yang masih juga belum bergerak. Rupanya gerobak itu tidak dapat terus menyusuri trotoar yang ada karena tak jauh di depannya terdapat patok, batu, dan bak tanaman yang mempersempit trotoar sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati oleh gerobak itu. Jadi untuk melanjutkan perjalanan terpaksa gerobak harus turun melewati jalan beraspal yang diperuntukkan bagi kendaraan, namun untuk itu dia juga harus bersabar menunggu kendaraan yang masih berhenti menanti lampu lalu lintas di ujung sana yang belum juga menyala hijau.

Lebar trotoar yang ada hanya selebar kira-kira 1,5 meter atau lima kaki (five foot) dan untungnya trotoar yang sempit ini tidak digunakan oleh pedagang untuk membuka lapak berjualan di sana sebagaimana bisa kita ditemui pada trotoar-trotoar yang biasanya berada pada titik-titik keramaian seperti di daerah perkantoran, pusat perbelanjaan, atau halte. Namun meski tidak ditempati pedagang, tetap saja trotoar ini tidak dapat dipergunakan untuk gerobak lewat di sana dengan nyaman, karena di titik-titik tertentu ada saja hal-hal yang dapat mengganggu kenyamanan pengguna trotoar di sana.

Dalam merencana jalan selain kenyamanan pengguna jalan ada hal-hal terkait yang harus dipikirkan, street scape dan street furniture, seperti sistem drainase, sistem utilitas, elektrikal, dan yang tidak kalah penting adalah kenyamanan pengguna trotoar, aksesori seperti tempat sampah, kursi taman, dan pepohonan tentunya akan menambah kenyamanan, mengingat kita berada di daerah beriklim tropis. Sudah tiba masanya untuk pemerintah kota-kota kita mulai bisa memikirkan hal-hal seperti ini dari saat mulai membuat rencana pembangunan kota, mengingat kota adalah untuk tempat kita tinggal bersama.

Setelah menanti cukup lama, akhirnya kendaraaan mulai bergerak perlahan namun si bapak dengan gerobaknya tampaknya masih harus sabar menunggu beberapa saat lagi untuk dapat melanjutkan perjalanan.

| 15 Januari 2010 | samidirijono | arsitek |
Sumber: http://balaijumpa.blogspot.com/2010/01/gerobak-dan-trotoar.html

Background Image

Header Color

:

Content Color

: